Data baru dari Inggris menunjukkan bahwa dampak lingkungan dari ambisi kecerdasan buatan di negara tersebut jauh lebih tinggi daripada yang diketahui sebelumnya. Revisi terbaru terhadap dokumen resmi pemerintah menunjukkan bahwa emisi karbon dioksida dari pusat data AI dapat mencapai tingkat yang hampir 100 kali lebih tinggi dibandingkan perkiraan awal.

Skala Revisi

Perbedaan ini diidentifikasi dalam “Peta Jalan Komputasi” Inggris, sebuah dokumen kebijakan strategis yang dirancang untuk membangun “ekosistem komputasi kelas dunia”.

  • Proyeksi Awal: Versi peta jalan sebelumnya memperkirakan bahwa penggunaan energi pusat data AI akan menghasilkan puncak emisi karbon sebesar 142.000 metrik ton antara tahun 2025 dan 2035.
  • Revisi Proyeksi: Angka yang diperbarui kini mencantumkan perkiraan tertinggi 123 juta metrik ton.

Sebagai gambaran peningkatan besar-besaran ini, angka revisi ini kira-kira setara dengan emisi tahunan yang dihasilkan oleh 2,7 juta orang. Lompatan proyeksi yang tiba-tiba ini menyoroti meningkatnya ketegangan antara persaingan untuk supremasi teknologi dan komitmen Inggris untuk mencapai emisi nol bersih pada tahun 2050.

Reaksi Politik dan Lingkungan

Revisi tersebut telah memicu kekhawatiran di kalangan pembuat kebijakan. Chi Onwurah, Anggota Parlemen dan ketua komite sains, inovasi, dan teknologi, menyerukan transparansi yang lebih besar dari para pemimpin pemerintah mengenai jejak ekologis dari rencana infrastruktur AI ini.

Ini bukanlah persoalan tersendiri. Ketika Inggris melakukan penelusuran terhadap angka-angka ini, beberapa kelompok parlemen secara aktif menyelidiki bagaimana permintaan energi AI yang sangat besar dapat bertentangan dengan tujuan pengurangan bahan bakar fosil nasional.

Tren Global Meningkatnya Permintaan Energi

Situasi di Inggris mencerminkan tren global yang lebih luas di mana pesatnya adopsi AI generatif meningkatkan konsumsi energi:

  1. Dampak Amerika Serikat: Laporan terbaru menunjukkan bahwa peningkatan penggunaan energi oleh pusat data AS telah berkontribusi terhadap peningkatan emisi global. Khususnya, emisi gas rumah kaca di AS telah meningkat untuk pertama kalinya dalam dua tahun setelah periode penurunan yang terus-menerus.
  2. Resistensi Lokal: Di banyak wilayah, kelompok advokasi lingkungan hidup dan komunitas lokal menentang perluasan fisik pusat data, dan beberapa di antaranya menyerukan moratorium federal atau larangan di tingkat negara bagian terhadap pembangunan pusat data baru.
  3. Respon Industri: Untuk memitigasi kritik, perusahaan-perusahaan teknologi besar dan investor AI mempromosikan berbagai inisiatif keberlanjutan. Hal ini termasuk janji untuk mendaur ulang air, memanfaatkan gas alam, dan melaksanakan program penggantian kerugian karbon untuk menyeimbangkan biaya energi.

Konflik Inti

Tantangan mendasar yang dihadapi industri teknologi dan pemerintah adalah dilema “komputasi vs. iklim”. Meskipun AI menjanjikan manfaat ekonomi dan ilmiah yang sangat besar, infrastruktur fisik yang dibutuhkan untuk menjalankan model ini—pusat data yang besar dan haus daya—dapat melemahkan upaya dekarbonisasi global.

Lonjakan besar dalam proyeksi emisi menggarisbawahi kesenjangan kritis antara pesatnya perkembangan teknologi AI dan kemampuan infrastruktur untuk memenuhi standar kelestarian lingkungan.

Kesimpulan
Revisi perkiraan emisi di Inggris menyoroti pengawasan besar-besaran dalam perencanaan awal infrastruktur AI, yang mencerminkan perjuangan global untuk menyeimbangkan pertumbuhan pesat kecerdasan buatan dengan komitmen iklim yang mendesak.