Selama bertahun-tahun, negara-negara bagian Timur Laut AS yang dipimpin Partai Demokrat berperan sebagai cetak biru global untuk aksi iklim yang agresif. Dengan menerapkan beberapa kebijakan paling ambisius di dunia untuk beralih dari bahan bakar fosil, negara-negara ini bertujuan untuk memimpin upaya dalam mengurangi emisi yang menyebabkan pemanasan global.
Namun, momentum tersebut menemui hambatan yang signifikan. Kombinasi dari target yang tidak tercapai, meningkatnya biaya hidup, dan perubahan lanskap politik memaksa beberapa negara untuk memikirkan kembali—dan dalam beberapa kasus, mengurangi—komitmen lingkungan mereka.
Gesekan Ekonomi: Keterjangkauan vs. Ambisi
Pendorong utama di balik kemunduran kebijakan ini adalah meningkatnya ketegangan antara tujuan lingkungan hidup jangka panjang dan realitas keuangan masyarakat. Karena transisi menuju energi ramah lingkungan memerlukan perubahan infrastruktur besar-besaran, dampaknya semakin terasa.
Beberapa negara utama saat ini sedang menghadapi krisis ini:
- New York: Gubernur Kathy Hochul baru-baru ini mengakui bahwa sasaran penting negara bagian ini untuk mengurangi emisi secara signifikan pada tahun 2030 kini “tidak mungkin tercapai”. Meskipun para pembuat kebijakan telah mempertimbangkan untuk mengenakan biaya kepada para pencemar untuk menjembatani kesenjangan tersebut, Gubernur telah memberi isyarat bahwa lonjakan tagihan listrik konsumen tidak dapat dipertahankan secara politik dan sosial.
- Massachusetts: Anggota parlemen secara aktif mempertimbangkan pemotongan program yang menggunakan biaya tambahan tagihan utilitas untuk mendanai peningkatan efisiensi energi dan pompa panas. Gubernur Maura Healey saat ini memprioritaskan keterjangkauan energi untuk memitigasi dampak kenaikan biaya terhadap rumah tangga.
- Rhode Island: Dalam sebuah perubahan besar, Gubernur Dan McKee telah mengusulkan untuk mendorong tenggat waktu negara bagian untuk mandat listrik terbarukan 100% dari 2033 hingga tahun 2050. Langkah ini merupakan respons langsung terhadap besarnya biaya jangka pendek yang terkait dengan jangka waktu awal.
“Kesulitan terbesar yang saya dengar dari penduduk Rhode Island saat ini adalah tagihan energi mereka yang terus meningkat… Kita perlu memberikan bantuan sekarang.” — Pemerintah. Dan McKee
Konteks yang Lebih Luas: Badai Tantangan yang Sempurna
Kemunduran regional ini tidak terjadi dalam ruang hampa. Hal ini merupakan hasil dari tiga tekanan yang saling bertemu dan menguji batas-batas kebijakan iklim:
- Biaya Transisi: “Premi ramah lingkungan”—biaya tambahan yang harus dikeluarkan untuk memilih teknologi ramah lingkungan dibandingkan teknologi berbasis bahan bakar fosil—dibebankan langsung ke konsumen melalui tagihan listrik, sehingga menimbulkan reaksi populis terhadap mandat iklim.
- Keterlambatan Infrastruktur: Tidak tercapainya target emisi menunjukkan bahwa transisi fisik (pembangunan pembangkit listrik tenaga angin, peningkatan jaringan listrik, dan pemasangan pompa panas) berjalan lebih lambat dibandingkan dengan jadwal legislatif yang semula diperkirakan.
- Volatilitas Politik: Meningkatnya permusuhan pemerintahan Trump terhadap energi terbarukan menciptakan suasana ketidakpastian, membuat para pemimpin negara bagian lebih berhati-hati dalam menjalankan mandat jangka panjang dan mahal yang mungkin tidak mendapat dukungan federal atau menghadapi deregulasi di masa depan.
Kesimpulan
Pergeseran di Timur Laut menandai transisi dari “idealisme iklim” ke “pragmatisme iklim.” Meskipun tujuan jangka panjang dekarbonisasi masih tetap ada, para pemimpin negara menyadari bahwa tanpa kelayakan ekonomi dan dukungan masyarakat, undang-undang lingkungan hidup yang paling ambisius pun akan menjadi mustahil untuk dipertahankan secara politis.
























